OTORITA DAN BUKU
JAKARTA, 7 SEPTEMBER 2023
OTORITA
melakukan koordinasi dengan satpam dan satpol pp untuk ketertiban pedagang kaki lima
BUKU
melanjutkan penulisan buku psikologi pendidikan
contoh
Pavlov
meneliti secara mendalam proses keluarnya air liur sebelum makanan disodorkan
ke mulut anjing dan itulah yang kemudian dijadikan acuan temuannya sebagai “ psychic secreation”. Pavlov
melaksanakan penelitian dalam bentuk penelitian eksperimen sungguhan pada
anjing dalam sebuah laboratorium dan melakukan pengamatan secara saksama dalam
waktu yang lama terutama untuk mengamati bagaimana proses fisiologis
berlangsung. Anjing dikontrol kesehatannya dan dikondisikan sedemikian rupa
sehingga anjing percobaannya menunjukkan perilaku yang sesungguhnya dan sesuai dengan tujuan penelitiannya.
Pavlov
mendapat penghargaan yang sangat tinggi dari pemerintah Rusia dan Pavlov secara
terus menerus dan konsisten melaksanakan penelitian hinggga lanjut usianya.
Pavlov juga mendapat penghargaan dari Lenin. Dugaan Pavlov adalah perilaku
binatang diduga dan dapat juga diberlakukan pada manusia dimana manusia dan
binatang memiliki respons terhadap stimulus yang sama sekalipun pada tingkatan yang berbeda. Temuan
Pavlov ini ternyata memberi sumbangan berarti bagi pengembangan teori
psikologi.
Classical
conditioning
adalah bentuk belajar dimana organisme belajar
mengkaitkan, atau mengasosiasikan
stimuli. Dalam classical conditioning,
stimulus yang netral (sebagaimana halnya penglihatan seseorang) diasosiasikan
dengan stimulus yang bermakna
(seperti makanan) dan memperoleh
dorongan untuk mendatangkan respons yang sama (Santrock, 2009). Ormrod (2011)
mengemukakan classical conditioning
adalah suatu teori yang menjelaskan bagaimana kita kadang kala belajar memberi
respons baru sebagai dampak dari adanya dua stimulus yang muncul kira-kira
secara secara bersamaan. Eggen dan Kauchak (2004) menjelaskan bahwa classical
conditioning suatu bentuk belajar dalam hal mana individu belajar untuk
menghasilkan respons yang tanpa disengaja atau respon fisiologis yang dapat
disamakan dengan respons yang bersifat reflektif atau sifatnya naluriah. Classical conditioning bertitik tolak
pada belajar yang sifatnya involuntary
emotional atau physiological
responses seperti takut, munculnya tegangan otot, berkeringat dan kadang
kala disebut respon yang otomatis (Woolfook, 2004). Classical conditioning sebenarnya menunjukkan kesamaan apakah itu
pemberlakuannya di dalam kelas maupun dalam kehidupan nyata sehari-hari
(Pintrich dan Schunk, 2002). Misalnya kita akan memiliki reaksi yang
menyenangkan jika dihidangkan makanan
yang enak dan sebaliknya kalau kita masuk keruang dokter gigi pasti memunculkan
reaksi yang tidak menyenangkan. Jika kita memiliki pengalaman yang buruk
sewaktu pertama kali belajar mengendarai mobil, kemungkinan kita akan merasa
cemas untuk mengendarai mobil pada waktu berikutnya. Kemungkinan kita semua
pernah mengalami kecemasan sewaktu mengikuti ujian akhir semester sekalipun tingkat kecemasannya berbeda.
Kecemasan itu muncul dengan sendirinya
sebagai dampak dari pengalaman yang tidak menyenangkan dan sebaliknya.
Comments
Post a Comment